Strategi UMKM dalam Menghadapi New Normal

Strategi UMKM dalam Menghadapi New Normal

Seperti yang kita tahu, saat ini kita menghadapi pandemi global bernama COVID -19, sebuah virus yang memiliki tingkat penyebaran sangat cepat. Keadaan ini akan berdampak pada semua lapisan masyarakat, dari yang muda sampai yang tua, dari yang miskin sampai yang kaya.

Dampak yang paling terasa adalah ekonomi. Banyak perusahaan yang tidak mampu membayar karyawannya sehingga harus merumahkan mereka. Dampak COVID-19 menjadi semakin terasa bagi Indonesia karena sektor UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian menjadi sektor yang paling terdampak.

Keluhan dari para pelaku UMKM adalah penjualan yang menurun, sulit memperoleh bahan baku, serta distribusi yang menjadi terhambat. Walau begitu, tidak semua UMKM mengalami penurunan.

Riset dari LPEM UI menyebutkan ada beberapa UMKM yang bersinar, yaitu UMKM yang memproduksi produk-produk herbal, buah-buahan, dan  sayur-sayuran  yang baik untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini disebabkan masyarakat yang mulai mengganti pola hidup menjadi lebih sehat.

Akibat penurunan ekonomi ini, sejumlah negara pun perlahan-lahan menerapkan new normal guna mendorong kembali roda perekonomian. Mereka secara perlahan-lahan mulai mencabut pembatasan sosial demi menyelamatkan pekerjaan masyarakat dan memulai kembali aktivitas perekonomian.

Tidak terkecuali Indonesia, pemerintah mulai mengkampanyekan new normal dengan mengizinkan karyawan berusia dibawah 45 tahun untuk kembali bekerja. New Normal akan ditandai dengan pola produksi dan konsumsi yang baru, dengan begitu digitalisasi dan otomatisasi yang semakin dipercepat. Lantas, strategi apa yang harus UMKM gunakan untuk menghadapi new normal?

Pertama,  UMKM perlu memiliki manajemen stock produk yang terintegrasi dengan pembelian dan penjualan, sehingga mampu memantau persediaan barang dengan cepat dan tepat.

Kedua, UMKM perlu mengintegrasikan pengiriman barang dagangannya, baik itu dalam kota, antar kota, sampai antar negara.

Ketiga, UMKM dapat terintegrasi dengan sistem komunikasi yang cepat kepada pelanggan, sekipun tidak dapat bertatap muka langsung dengan pelanggan. UMKM dapat menggunakan Whatsapp, Line, dan sebagainya. Yang terakhir, UMKM perlu mengintegrasikan sistem pembayaran mereka dengan sistem transfer bank, e wallet (Dana, Ovo, dsb), dan juga cash on delivery (COD).

Integrasi diatas dapat bisa langsung digunakan oleh UMKM apabila bergabung dengan marketplace, seperti bukalapak, tokopedia, shopee, dll. Pada marketplace tersebut, para UMKM dapat melakukan pengintegrasian yang saya sebutkan di atas. UMKM dapat mencatat stock barang yang akan otomatis berkurang jika terjadi penjualan dan mencatat secara otomatis jumlah penjualan atas tiap produk yang ditawarkan.

UMKM juga dapat menyediakanpilihan pengantaran barang seperti melalui JNE, TIKI, atau GoSend untuk layanan pengiriman kilat. Pada marketplace, UMKM juga memiliki fitur chat yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan dari calon pembeli. Dan yang terkahir, UMKM juga dapat menyediakan pilihan pembayaran muali dari transfer bank, e-wallet, bahkan sampai dengan pembayaran kredit.

Tantangan dari setiap UMKM untuk solusi ini adalah banyak UMKM yang tidak mengerti bagaimana mendigitalisasikan usaha mereka. Mereka tidak melek teknologi sehingga sulit untuk memulai. Belum lagi masalah pemasaran digital yang perlu dikuasai juga oleh UMKM. Peran ini dapat diambil oleh asosiasi UMKM dan koperasi yang menaungi UMKM untuk membantu dan membimbing para pengusaha ini dalam mendigitalisasikan usahanya.

Dengan menyesuaikan metode penjualan menjadi tidak konvensional lagi, diharapkan UMKM mampu bertahan ditengah situasi new normal yang  akan segera kita hadapi, bahkan dapat meraup keuntungan.

UMKM dapat menjual produknya ke pasar yang lebih luas tanpa harus menyewa toko, outlet dan lain sebagainya. Dengan berjayanya UMKM, perekonomian negara juga akan terangkat.

Sumber: suara.com

Share this post