Pengemasan Vakum Perluas Pemasaran UMKM

Pengemasan Vakum Perluas Pemasaran UMKM

Bandeng presto merupakan salah satu ikon Semarang yang banyak digarap oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, produk mereka dipasarkan secara terbatas di pasar lokal. Penyebabnya, bandeng presto produk makanan yang mudah rusak, sehingga produsen tidak berani memasarkan ke luar daerah.

Salah satu upaya mengatasi masalah kekurangawetan adalah dengan menggunakan teknologi kemasan vakum. Undip turun tangan melalui salah satu program pengabdian masyarakat, yakni ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bagi masyarakat .

Program tersebut didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Wujudnya berupa bantuan kemasan vakum kepada UMKM pengolahan bandeng di Srondol Wetan dan Kedungmundu Semarang.

Ima Wijayanti SPi MSi, ketua tim pelaksana program menjelaskan, pengemasan vakum adalah sistem pengemasan hampa udara pada tekanan kurang dari 1 atm dengan cara mengeluarkan oksigen (O2) dari kemasan, sehingga memperpanjang umur simpan.

Proses pengemasan vakum dilakukan dengan cara memasukkan produk ke dalam kemasan plastik, diikuti pengontrolan udara menggunakan mesin pengemas vakum atau vacuum packager, kemudian ditutup dan di-sealer.

‘’Dengan ketiadaan udara dalam kemasan, kerusakan akibat oksidasi dapat dihilangkan, sehingga produk bisa bertahan atau awet tiga hingga lima kali lebih lama daripada pengemasan nonvakum.’’ Tutur Ima. Pengemas vakum diharapkan dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk memperluas pemasaran produknya ke luar daerah, karena daya simpan lebih lama.

Tingkatkan Kualitas 

Apri Dwi Anggo SPi MSc, anggota tim dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan menjelaskan, pelatihan dan pendampingan dilakukan guna meningkatkan kuantitas dan kualitas UMKM bandeng presto. Tim memfasilitasi analisis laboratorium terhadap nilai nutrisi bandeng presto, sehingga dapat ditampilkan di dalam kemasan.

Informasi nilai nutrisi tersebut diharapkan dapat menarik konsumen untuk mengonsumsi bandeng presto yang mengandung gizi tinggi. Informasi gizi tersebut juga dapat digunakan untuk pengajuan izin pangan industri rumah tangga (PIRT), mengingat kedua mitra belum mempunyai.

Dr Wiludjeng Roessali MSi, staf Departemen Agribisnis Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip menjelaskan pendampingan manajemen sederhana dilakukan pula oleh tim.

Siti Fatimah, pemilik UMKM bandeng presto di Srondol Wetan dan Anik Joko, pelaku UMKM Bandeng presto di Kedungmundu menyatakan bersyukur atas bantuan Undip. Lewat bantuan kemasan vakum, selain pemasaran dapat ditingkatkan, mereka punya keinginan mengembangkan produk menjadi berbagai produk diversifikasi.

Sumber: suaramerdeka.com Oleh: B Tri Subeno

Share this post