Krisis Ekonomi akibat Virus Corona, UMKM Tetap Jadi Andalan

Krisis Ekonomi akibat Virus Corona, UMKM Tetap Jadi Andalan

Di kala ekonomi global dilanda krisis semua negara pasti terkena dampaknya termasuk Indonesia. Namun, dalam menghadapi ekonomi global, Indonesia tidak terlalu “sempoyongan” bahkan “jatuh”.

Padalnya Indonesia, mempunyai sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Contohnya ketika krisis ekonomi tahun 1998. Ekonomi cukup kuat karena ditopang sektor UMKM.

Demikian juga awal tahun 2020 ini, ekonomi global mengalami permasalahan karena terpukul sama wabah virus corona yang bermula di Wuhan, Tiongkok.

Dalam situasi perekonomian yang tidak menentu seperti sekarang, UMKM merupakan kekuatan penyangga ekonomi nasional. “Dalam situasi ekonomi yang sedang terpukul, UMKM tampil sebagai tulang punggung dan menjadi andalan untuk menggerakkan ekonomi domestik. Kalau usaha-usaha besar pasti menunggu situasi membaik untuk pengembangan bisnis dan investasinya, beda dengan UMKM, usahanya harus tetap jalan, untung dikit nggak apa-apa. UMKM memang paling dinamis,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2020).

Teten menegaskan, dalam situasi krisis, UMKM menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja, mensubstitusi produk-produk konsumsi atau setengah jadi. Saat ini menjadi momentum agar masyarakat membeli dan mengonsumsi produk UMKM.

Masyarakat diminta tidak perlu panik kekurangan barang konsumsi, UMKM mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Yang penting adalah daya beli masyarakat terjaga dan kegiatan UMKM terus menggeliat.

Ia menyampaikan, khususnya usaha mikro adalah bagian dari kegiatan ekonomi sehari-hari masyarakat yang berjalan untuk menunjang kehidupannya. Jumlah usaha mikro ini mendominasi skala usaha mikro di Indonesia yang jumlahnya mencapai 63 juta unit, sedangkan usaha kecil mencapai 783.000 unit.

Karena itu, pemerintah akan terus memastikan usaha mikro dan kecil tetap berjalan dan semakin kuat dalam kondisi perekonomian yang tidak menentu sekalipun.

Menurut Teten, dalam mendukung UMKM agar dapat menjadi penggerak ekonomi, pemerintah sudah merencakan akan mengeluarkan stimulus bagi UMKM.

“Dengan adanya stimulus diharapkan mendorong pertumbuhan UMKM yang berdaya saing dan memberi kontribusi yang makin besar bagi perekonomian nasional,” kata dia.

Sebelumnya peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan menilai peningkatan kontribusi UMKM terhadap pendapatan nasional harus terus diupayakan.

Sebagai sektor yang berperan dalam membuka lapangan kerja bagi 96,87% angkatan kerja di Indonesia, UMKM memiliki posisi penting dalam keberlangsungan perekonomian Indonesia. Menurutnya, pemerintah idealnya harus menyediakan skema permodalan yang ramah terhadap UMKM.

Selama ini, UMKM seringkali sulit mendapatkan modal dari bank karena sulitnya UMKM dalam memenuhi syarat creditworthiness (5C) yang menjadi standar bank dalam memberikan pinjaman. Creditworthiness diartikan sebagai syarat-syarat kelayakan untuk mendapatkan kredit dari bank.

Aset yang dimiliki UMKM, umumnya, tidak cukup memadai untuk dijadikan jaminan kepada pihak bank. Hal ini akhirnya yang membuat mereka dikenai bunga yang tinggi. Sementara itu untuk KUR, usaha skala kecil dan mikro masih sulit mendapatkannya. Usaha skala menengah memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan KUR.

”Penguatan peran peer to peer lenders harus dilakukan untuk memberikan UMKM akses ke permodalan dengan skema pembayaran yang ramah UMKM. Peran mereka sebagai perantara bisa turut memberikan manfaat untuk bank melalui produk-produk keuangan yang mereka beli sekaligus bisa memberikan UMKM akses ke permodalan,” tambahnya.

Sumber: beritasatu.com

Share this post