Jual lewat Online, Omzet UKM Naik Tiga Kali Lipat

Jual lewat Online, Omzet UKM Naik Tiga Kali Lipat

Berkembangnya bisnis jual beli secara online (e-commerce) bukan hanya membawa keuntungan perusahaan aplikasi e-commerce, tetapi juga pelaku usaha yang menjual barangnya melalui aplikasi tersebut.

Co-Founder Bukalapak, Fajrin Rasyid, mengatakan pendapatan yang diterima oleh para pelaku usaha ini atau yang di Bukalapak biasa disebut sebagai pelapak meningkat sejak menjual produknya secara online melalui e-commerce.

“Kalau tidak salah, jumlah atau omzet masing-masing pelapak di Bukalapak, itu tahun lalu saja naik sekitar tiga kali lipat,” ujar dia dalam acara World Conference on Creative Economy 2018 di Nusa Dua Bali, Kamis (8/11/2018).

Dia menjelaskan, peningkatan omzet yang didapatkan oleh para pelapak ini sejalan dengan visi dari Bukalapak. Online marketplace ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kelas dari para pelaku usaha kecil dan menengah.

“Artinya ini sejalan dengan visi Bukalapak untuk menaikkelaskan UKM. Jadi kami tidak cuma memperbanyak pelapak saja tapi juga membuat pelapak yang berjualan ini semakin lama semakin makmur, semakin naik omzetnya,” kata dia.

Fajrin menuturkan, saat ini sebanyak 4 juta pelapak telah menawarkan produknya melalui Bukalapak. Ke depannya diharapkan lebih banyak lagi masyarakat yang menjadi pelapak dan merasakan manfaat dari menjual produknya secara online. ‎

“Sekarang sekitar 4 juta pelapak. Kebanyakan (menjadi pelapak) organik, mereka sendiri (masuk ke Bukalapak) atau melalui komunitas Bukalapak yang tersebar di lebih dari 100 kota. Ini salah satu efeknya meningkatkan word of mouth di antara pelapak.‎ Kebanyakan seperti itu. Tentu ada pelapak yang langsung kami approach. Tetapi itu tidak akan bisa masif dari sisi jumlah, jadi dua-duanya dilakukan,” ujar dia.

Sebelumnya, CEO Bukalapak, Achmad Zaky, menyatakan kehadiran perusahaan yang berorientasi pada skema gig economy atau memanfaatkan keberadaan tenaga kerja lepas seperti GoJek dan Grab itu bagus untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akan tetapi, dia mengingatkan negara untuk tidak lupa pada satu kata kunci, yakni inovasi.

“Menurut saya itu bagus. Bagusnya karena dia menciptakan lapangan pekerjaan di masyarakat. Saya cuma bilang, gig economy penting kalau pengen negara maju. Tapi jangan kesampingkan ekonomi yang high value,” ujar dia di forum Youth at Work pada pertemuan tahunan IMF-WBG 2018, Nusa Dua, Bali, Selasa 9 Oktober 2018.

Dia mengatakan kehadiran perusahaan berbasis ekonomi bagus lantaran menciptakan lapangan pekerjaan yang fleksibel secara waktu dan bisa dipakai untuk meraih pendapatan sampingan.

Namun, Zaky menambahkan, keberadaan perusahaan yang berbasis inovasi akan lebih dibutuhkan negara agar perekonomiannya lebih bisa bertahan lama untuk ke depan.

“Yang gig ini sebenarnya service economy. Kalau pengen Indonesia jadi negara maju, itu ekonomi value added yang innovation based mesti digarap. Jadi jangan hanya melihat gig economy,” sambungnya.

Zaky mencontohkan, keberadaan sebuah perusahaan besar yang berbasis inovasi seperti Apple di Amerika Serikat bisa bantu meningkatkan produk domestik bruto (Growth Domestic Product/GDP) Negeri Paman Sam hingga 0,8 persen.

“Kalau kita fokus ke inovasi, itu akan menciptakan value yang lebih banyak. Maksudnya kita ngimpi loh, Indonesia punya kayak Apple begitu, satu saja. Apple itu size-nya segede Indonesia. Jadi kalau Indonesia punya itu satu saja, GDP kita bakal double,” urainya.

“Intinya harus bisa menciptakan value-value yang lebih besar. Gig economy penting. Tapi kalau ditanya apakah bisa menciptakan growth economy dua kali lipat dalam waktu 10-20 tahun, itu impossible,” pungkas Zaky.

Sumber: lipitan6.com oleh Septian Deny

Share this post