Imbas Corona, Kebutuhan Kemasan Plastik Produk Makanan Online Meningkat

Imbas Corona, Kebutuhan Kemasan Plastik Produk Makanan Online Meningkat

Sejak dua pekan terakhir kebutuhan kemasan plastik produk makanan yang diperdagangkan secara online meningkat. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah memberlakukan social distancing di tengah merebaknya wabah corona.

Dengan keterbatasan ruang gerak, masyarakat pun memilih membeli makanan dan minuman secara online. Maka, tak ayal sejumlah restoran dan rumah makan yang menjual makanan dan minuman secara online pun kebanjiran pesanan.

Di sisi lain, maraknya pembelian makanan dan minuman secara online juga berimbas pada meningkatnya kebutuhan akan plastik kemasan atau pembungkus dari makanan dan minuman tersebut.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menegaskan adanya peningkatan penjualan dari plastik kemasan. “Sudah dua pekan ini tren penjualan plastik kemasan meningkat. Namun kami belum memiliki data yang pasti tentang berapa persen peningkatan penjualan tersebut,” kata Fajar.

“Dalam kondisi social distancing masyarakat tetap butuh makanan dan minuman. Sementara ruang gerak terbatas, sehingga praktis layanan pesan antar makanan minuman online jadi pilihan,” ujarnya.

Fajar menambahkan, tentunya layanan pesan antar makanan dan minuman itu membutuhkan kemasan plastik dalam jumlah besar. “Karena kan makanan dan minuman itu harus dibungkus. Kalau tidak ada kemasan plastik makanannya bisa kotor, tidak higienis. Nah, kemasan yang murah dan bisa menjamin higienitas makanan dan minuman itu adalah plastik,” tegas Fajar.

Jenis kemasan plastik yang cukup banyak peningkatan penjualannya adalah jenis styrofoam, food packaging dan kantong plastik bening. Menurut Fajar, jenis food packaging yang paling laris adalah plastik mika, dan plastik cup untuk membungkus makanan berkuah seperti sop dan bakso serta minuman seperti es dan jus buah.

“Peningkatan penjualan sangat terlihat pada jenis kemasan plastik fleksibel. Untuk plastik rigid peningkatannya belum terlalu banyak,” tambah Fajar. Kemasan fleksibel bersifat lebih tipis dan mudah diremas, sedangkan kemasan plastik kaku (rigid) adalah kemasan plastik dengan karakteristik keras, lebih tebal dan tidak mudah diremas.

Fajar juga menyatakan, kondisi meningkatnya kebutuhan kemasan plastik sekali pakai saat ini telah membukakan mata semua pihak tentang pentingnya plastik. “Saat ini semua mata kita terbuka, bahwa memang tidak ada yang salah dengan produk plastik. Ternyata plastik memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Hal senada juga dikonfirmasi oleh Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Rachmat Hidayat.

“Situasi yang ada saat ini telah mendorong meningkatnya permintaan akan produk makanan dan minuman. Karena konsumen yang tinggal di rumah pun tetap butuh makanan dan minuman,” kata Rachmat.

Ia menambahkan, adanya kebutuhan yang tinggi terhadap makanan dan minuman yang diperdagangkan secara online sudah pasti membutuhkan kemasan produk yang baik pula.

“Sehingga kebutuhan terhadap kemasan plastik jelas meningkat, khususnya kemasan berupa botol, cup, dan aneka kemasan makanan minuman lainnya,” tambahnya. Karena itu, Rachmat menegaskan bahwa kemasan plastik sekali pakai masih sangat dibutuhkan untuk menjamin keamanan pangan.

“Jadi plastik jangan dilarang. Karena pelarangan plastik hanya akan merugikan masyarakat, ekonomi nasional, dan industri. Serta di saat sama juga tidak akan memecahkan masalah sampah nasional, karena masalah kita adalah pengelolaan sampah yang perlu diperbaiki,” tegasnya.

Pemerintah, tambah Rachmat, seharusnya mendorong sirkular ekonomi dengan memperbaiki pengelolaan sampah, peningkatan daur ulang dan meningkatkan penggunaan kemasan yang berasal dari daur ulang.

Sumber: jurnas.com Oleh Alibas

Share this post