“Go Digital”, Akses UMKM Memperluas Pasar

“Go Digital”, Akses UMKM Memperluas Pasar

JAKARTA, KOMPAS.com – Kesulitan memasarkan produk, kerap jadi tantangan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), terutama yang berasal dari daerah. Solusi digital jadi terobosannya. Seperti apa?

“(Sempat kesulitan memasarkan produk), terlebih untuk barang craft yang peminatnya hanya orang-orang tertentu,” ujar Sri Wahyuni, salah satu peserta Pameran UMKM digital Telkom Craft Indonesia 2017, Jumat (10/3/2017).

Saat memulai usahanya, Sri fokus pada penjualan produk tas, dompet, dan keranjang, berbahan baku daun pandan, rotan, dan eceng gondok. Menurut pemilik label Abi Citra Kusuma ini, peminat barang-barang seperti ini biasanya hanya orang-orang yang hobi.

Cerita lain datang dari Pipih, yang juga menjadi peserta pameran. Dia mengaku hanya berani membuat 20 topi anyaman daun pandan, panama, dan pendong, saat memulai usahanya.

Toko kecil di depan rumahnya di Tasikmalaya, Jawa Barat, jadi andalan Pipih menjual kerajinan berlabel Rafi Craft tersebut. Strategi pemasaran dan pengenalan produk pun hanya disebarkan dari mulut ke mulut.

Tak disangka, penjualan pertama Pipih disambut antusias oleh warga sekitar. Seiring waktu, produk jualan Pipih bertambah, bersama penjualan yang meningkat. Selain topi, dia juga membuat anyaman tas, sandal, dan dompet.

1652084IMG-2188780x390 “Go Digital”, Akses UMKM Memperluas Pasar
Pemilik UMKM Rafi Craft, Pipih (kerudung biru), sedang melayani pelanggan di booth-nya di pameran digital Telkom Craft Indonesia yang berlangsung di Hall A Jakarta Convention Center, Jumat (10/3/2017)(Cahyu Cantika)

Bahkan, usahanya  berkembang sampai dia bisa merekrut 30 warga sekitar rumah untuk membantu membuat produk anyaman.

“Semua barang dagangan kami hand-made. Perajin ada yang mengerjakan anyaman, ada lagi yang membentuk jadi produk,” tutur Pipih.

Kendala, lanjut Pipih, baru mulai terasa ketika ia ingin mengenalkan produk ke luar daerah.

Melirik teknologi digital

Sri dan Pipih mencoba berbagai cara untuk melompati tantangan soal pemasaran produk tersebut. Lewat beberapa tahun, upaya pencarian mereka mendatangkan peluang solusi, berupa pemanfaatan teknologi digital.

Beda lokasi, usaha juga tak sama, mereka berdua sama-sama mendapatkan peluang solusi itu dengan menjadi mitra binaan PT Telkom Indonesia (Persero). Pelatihan dan sejumlah bantuan mereka dapatkan di sini, selain solusi terobosan pemasaran menggunakan teknologi digital.

Sekarang, produk Pipih dan Sri sering mengikuti pameran di berbagai daerah di Indonesia. Berpadu dengan model pemasaran digital, pendapatan usaha mereka pun meningkat pesat.

Pipih, misalnya, menyebut omzetnya naik 40 persen setelah jadi binaan BUMN ini, rata-rata menjadi Rp 20 juta sampai Rp 40 juta per bulan.

“Paling untung saat (diajak) ikut Ina Craft 2016 di Jakarta. Saat itu, semua barang dagangan habis terjual,” kata Pipih.

Setali tiga uang, Sri menyebut usahanya kini meraup pendapatan rata-rata Rp 30 juta sebulan.

“Itu kalau penjualan lagi sepi. Bila sedang ramai, kami bisa untung hingga hampir Rp 100 juta,” ucap Sri.

Sebagai bukti, Sri menyebut pada hari pertama pameran Telkom Craft Indonesia 2017 yang dia ikuti ini, 600 barang sudah terjual sebelum pukul 13.00 WIB. Transaksinya sudah melayani pembayaran digital.

1657372IMG-2190780x390 “Go Digital”, Akses UMKM Memperluas Pasar
Pelaku UMKM, Sri Wahyuni (kerudung pink), sedang menjaga booth-nya di pameran digital UMKM Telkom Craft Indonesia 2017 di Hall A Jakarta Convention Center, Jumat (10/3/2017)(Cahyu Cantika)

“(Sistem pembayaran) ini yang membuat pelanggan (ramai), karena semakin mudah melakukan pembelian,” katanya.

Sistem pembayaran itulah salah satu wujud utama pembinaan dari Telkom kepada para pelaku UMKM. Menurut Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero), Alex Janangkih Sinaga, UMKM perlu dibawa ke dalam digital economy system agar usaha mereka bisa semakin maju.

“(Sebagai solusi bagi) tiga permasalahan yang kerap dihadapi UMKM, yaitu access to competence, access to commerce, dan access to capital,” ujar Alex.

Penjelasan mengenai tiga tantangan tersebut datang dari Menteri Negara BUMN Rini Soemarno. UMKM, ujar dia, butuh bimbingan dalam hal standar pengembangan produk, kualitas, serta pemanfaatan teknologi dan manajemen (access to competence).

Adapun pameran dan sarana penjualan online, menurut Rini merupakan jabaran dari access to commerce, untuk membuka pasar yang lebih luas. “Mereka juga perlu dukungan permodalan (access to capital),” tambahnya.

Ketiga tantangan tersebut, ungkap Rini, merupakan dasar kementeriannya membangun Rumah Kreatif BUMN (RKB) di seluruh kabupaten kota di Indonesia. Hingga akhir 2016, tercatat sudah ada 100 RKB, dan ditargetkan pada tahun ini ada tambahan 514 RKB lagi.

Melalui RKB, UMKM mendapatkan pembinaan klasikal, konsultasi bisnis, penyediaan modul bisnis, dan solusi bisnis pendanaan melalui dana kemitraan atau Kredit Usaha Rakyat (KUR). Mereka juga menerima pelatihan teknologi informasi dan komunikasi, untuk bisa berjualan online lewat internet.

Praktik aktivitas pemasaran secara online ini diluncurkan pula dalam pameran UMKM digital Telkom Craft Indonesia 2017. Pembayaran digital untuk transaksi di sini dapat dilakukan memakai TCash dari Telkomsel dan atau melalui situs web blanja.com.

Masyarakat juga tetap dapat melakukan pembelian produk-produk UMKM di acara ini melalui situs belanja tersebut, sekalipun pameran sudah usai. Pameran UMKM digital Telkom Craft Indonesia 2017 berlangsung di Hall A Jakarta Convention Center pada 10-12 Maret 2017.

Peserta pameran adalah 150 UMKM dari bidang craft, fesyen, dan makanan. Untuk mengikuti pameran, para peserta telah melewati tahap kurasi dengan kriteria go modern, go digital, dan go online.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *