Cerita Mendag Lutfi Susahnya UMKM tembus Ekspor

Cerita Mendag Lutfi Susahnya UMKM tembus Ekspor

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan, masih sulitnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah ( UMKM) untuk bisa menembus pasar global. Hal itu dikarenakan rumitnya perizinan hingga kualitas produk yang belum berdaya saing.

Dia mengatakan, persoalan ini diketahuinya bermula ketika seseorang menceritakan kisah saat menjadi pelaku UMKM di bidang exotic leather atau material kulit hewan. Bisnis itu gagal menembus pasar Korea Selatan dan menimbulkan kerugian besar.

Menurut Lutfi, usai dilantik sebagai Menteri Perdagangan pada Desember 2020 lalu di Istana Negara, dirinya berkesempatan berbincang dengan orang tersebut yang sempat memiliki perusahaan berbentuk CV.

“Setelah saya selesai dilantik, saya lagi makan ngobrol sama pelayan, cerita tentang bagaimana susahnya mengekspor. CV-nya bangkrut karena tidak dibayar oleh pembelinya dari Korea. Jadi dia jualan exotic leather,” ungkapnya dalam webinar Program Mencetak 500K Eksportir Baru. ”

Jadi saya dengar dia enggak dibayar Rp 100 juta sama orang Korea itu. Menurut saya, itu terjadi karena adanya perbedaan kualitas, tidak sesuai yang dijanjikan sehingga orang Korea-nya menolak membayar. Begitu tidak dibayar, selesai,” lanjut dia.

Lutfi mengatakan, berdasarkan pembicaraannya kala itu dapat diketahui bahwa sulitnya untuk mengurus perizinan menjadi perusahaan. Setelah itu, dihadapkan sulitnya untuk mencari pasar, dan ketika dapat dihadapkan pula untuk kepastian produk dibayar oleh klien.

Oleh sebab itu, Lutfi ingin para pemangku kepentingan duduk bersama memecahkan permasalahan yang dihadapi para pelaku UMKM untuk bisa menembus pasar global.

“Dari cerita itu, di tempat saya jauh tungku dari api, jadi ini mesti kita perbaiki,” katanya.

Dia pun mengajak Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki untuk segera menggelar rapat bersama guna mendorong semakin banyaknya pelaku usaha Indonesia yang memasarkan produknya ke luar negeri.

“Minggu depan kita duduk sama-sama, supaya kita bongkar dulu masalahnya, kita kerjakan dengan kolaborasi sesuai sehingga bisa sesuai dengan permintaan pasar,” pungkasnya.

Sumber: kompas.com, Penulis: Yohana Artha Uly, Editor: Erlangga Djumena

Share this post