Cegah Obesitas dengan Membaca Informasi Gizi pada Label Kemasan Makanan

Cegah Obesitas dengan Membaca Informasi Gizi pada Label Kemasan Makanan

Pandemi membuat pola hidup masyarakat berubah. Salah satunya, lebih cenderung pada gaya hidup sedentari, di mana lebih banyak waktu untuk duduk dan kurang bergerak.

Hal ini menyebabkan banyak orang mengalami kenaikan berat badan, bahkan berisiko obesitas.

Selain meluangkan lebih banyak waktu untuk berolahraga, cara lain yang efektif mencegah kelebihan berat badan adalah membaca dengan cermat informasi gizi pada label kemasan makanan dan minuman.

Ini penting untuk memahami jumlah kandungan gula, garam, dan lemak yang akan dikonsumsi.

Kebanyakan orang, seringkali ketika membeli sebuah produk dalam kemasan hanya memperhatikan label expired ataudan label harga.

Tapi, abai dengan label informasi nilai gizi atau Nutrition Fact yang tertera pada kemasan.

Padahal, informasi nilai gizi ini ada bukan hanya untuk pemanis kemasan, melainkan untuk kepentingan kesehatan.

Dijelaskan oleh Koordinator Kelompok Standarisasi Pangan Olahan Badan POM Yusra Egayanti, S.Si, Apt,. MP, BPOM mewajibkan pencantuman informasi nilai gizi pada semua produk kemasan, agar konsumen dapat melihat kandungan gula, garam dan lemak.

Hal tersebut disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Nutrifood yang berkolaborasi dengan Kemenkes RI dan Badan POM RI bertajuk ‘Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas.

“Ini sangat penting, mengingat kita harus membatasi konsumsi gula, garam dan lemak harian agar menghindari risiko obesitas,” ujar Ega.

Perlu diketahui, bahwa anjuran yang dicantumkan dalam Permenkes Nomor 30 Tahun 2013 minimal konsumsi gula harian berkisar sebanyak 50 gram perhari atau setara dengan 4 sendok makan.

Untuk garam sebanyak 5 gram perhari atau setara dengan 1 sendok teh, sedangkan untuk lemak sebesar 67 gram perhari atau setara dengan 5 sendok makan.

“Maka dari itu, jika kita ingin membeli atau mengonsumsi suatu produk, lihat dulu kadar garam, gula, dan lemak (GGL) yang ada didalamnya, sehingga bisa memantau agar konsumsi kita tidak lebih dari minimal kebutuhan konsumsi GGL,” lanjut Ega. Namun, Ega menuturkan, masih banyak orang yang belum terbiasa melihat label informasi gizi. Salah satu alasannya, penamaan pada lebael informasi gizi kurang familiar sehingga sulit dipahami.

Namun sebenarnya, cara membaca informasi nilai gizi dapat dipelajari.

Yang perlu diingat adalah, sebagian makanan kemasan bukan untuk sekali makan, melainkan untuk beberapa kali penyajian. Sementara informasi nilai gizi pada label nutrisi, umumnya hanya untuk satu kali penyajian.

Sehingga, jika mengonsumsi produk tersebut lebih dari satu kali penyajian, maka kontribusi jumlah asupan kalori dan semua nutrisi yang ada pada produk tersebut akan lebih tinggi.

Begitu juga dengan kandungan lemak, gula, dan natrium (garam) yang tertera, hanya berdasarkan satu kali penyajian, bukan keseluruhan isi kemasan.

Selain itu perhatikan juga persenan Angka Kecukupan Gizi (%AKG) untuk menyesuaikan dengan kebutuhan diri.

Misalkan %AKG menunjukkan nilai 20 persen, maka kebutuhan nutrisi tersebut sudah terpenuhi sebanyak 20% bila dikonsumsi sesuai takaran.

Bukan hanya pada makanan kemasan, masyarakat juga perlu memperhatikan kandungan gizi pada makanan yang diolah di rumah maupun di restoran.

Ega mengakui, masih sangat jarang didapati restoran atau pangan non kemasan lainnya yang mencantumkan informasi nilai gizi.

Namun, untuk mensiasati hal ini, ia menyarankan masyarakan untuk lebih teliti memilih makanan apa yang sekiranya memenuhi kebutuhan gizi harian.

“Kita dapat memilih makanan yang tinggi serat, seperti sayur-sayuran dan selalu memperhatikan jumlah kalori pada setiap makanan yang kita konsumsi. Itu akan sangat membantu dalam mengatur jumlah GGL pada tubuh kita,” pungkasnya.

Sumber: kompas.com Oleh: Dea Syifa Ananda

Share this post